Monumen Perang Dunia II, kota Manado

0
7

Monumen Perang Dunia II di Manado, Sulawesi Utara adalah sebuah monumen yang dibangun pada tahun 1946 sampai 1947 oleh arsitek Belanda bernama Ir. Van de Bosch. Tepatnya, Tugu Perang Dunia ke II ini berada di kawasan Jalan Sarapung Lingkungan 2, Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, Kota Manado. Tinggi monumen ini 40 meter terdiri dari 4 buah tiang penyangga dengan bentuk sebuah kubus . Kubus ini merupakan tempat  abu jenazah korban perang, yang dilengkapi dengan empat bola atau roda peti jenazah. Monumen ini dibangun sebagai peringatan atas terjadinya Perang Dunia ke II, baik pada pihak Sekutu, pihak Jepang, dan rakyat semasa Perang Dunia ke II, yang terjadi pada tahun 1941 hingga tahun 1945.. Monumen ini tidak sempat diresmikan sehingga tidak ada prasasti penamaannya.

Secara administratif lokasi penelitian Monumen Perang Dunia II terletak di Sulawesi Utara, Kota Manado. Adapun keadaan wilayah dari Monumen Perang Dunia ke II ini pada sebalah utara, akan berbatasan dengan dengan Jalan Sudirman. Pada  sebelah Selatan berbatasan dengan Rumah Makan KFC. Di sebelah Timur monumen ini akan terlihat berbatasan dengan Pastori dan Lorong , dan akhirnya s pada sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Sarapung. Jika dilihat dari tampilan Monumen Perang Manado, akan terlihat bahwa monumen ini merupakan sebuah gambaran dari awal kehancuran Manado, dimana kedua Negara yaitu Jepang dan Sekutu bukan membawa keuntungan untuk kemajuan bagi Manado maupun rakyat Manado, justru membawa kerugian bagi Manado maupun rakyat Manado.

Pada saat dibangunnya monumen tersebut, monumen Perang Dunia ke II ini digunakan sebagai simbol penyerahan arwah korban perang kepada Tuhan Yang Mahakuasa pada kotak berbentuk kubus di puncak monumen. Pada setiap bangunan yang merupakan peninggalan bersejarah, bentuk arsitektur bangunan tersebut merupakan penggambaran dan dapat menyiratkan citra dan suatu  kebudayaan dalam suatu bangsa. Suatu bangunan yang memiliki sejarah, seperti Monumen Perang Dunia ke dua di Menado ini merupakan  bagian dari sejarah dan tradisi pada suatu masa tertentu. Apa bila suatu bangunan bersejarah tidak dirawat, bahkan hancur, hal tersebut sama artinya dengan menghapuskan salah satu cermin untuk mengenali sejarah dan tradisi masa lalu.Apa bila suatu masyarakat hidup di dalam suatu wilayah, di mana terdapat peninggalan kebudayaan atau bangunan bersejarah, maka masyarakat akan lebih sadar tentang jati diri, lebih dapat meresapi hasil karya dan jerih payah generasi sebelumnya dalam menciptakan lingkungan hidupnya, untuk dikembangkan menjadi lebih baik dan lebih indah