Papilledema, Pembengkakan Saraf Mata Yang Bisa Sebabkan Kebutaan

0
224

Ternyata bukan hanya tangan atau kaki saja yang dapat mengalami pembengkakan, saraf di sekitar bola mata pun dapat bengkak. Papilledema adalah kondisi pembengkakkan ini. Tetapi, kenapa orang bisa mengalami pembengkakan di saraf mata? Apakah ada gejala yang menandakannya? Apakah saraf mata yang bengkak akan menimbulkan kebutaan? Nah, simak ulasan di bawah ini seputar papilledema.

Papilledema, Pembengkakan Saraf Mata Yang Bisa Sebabkan Kebutaan

Papilledema adalah kondisi yang serius

Papilledema adalah kondisi medis di mana terjadi pembengkakan saraf optik di area optic disc. Optic disc adalah area di mana saraf optik masuk ke dalam bagian belakang bola mata. Saraf optik yang melalui area optic disc ini terdiri dari kumpulan serat-serat saraf yang membawa informasi visual menyambungkan antara otak dengan retina mata.

Ketika papilledema terjadi, area optic disc yang berisi saraf-saraf optik ini mengalami pembengkakan. Sebab itulah papilledema tergolong kondisi medis yang serius dan membutuhkan penanganan dokter.

Apa yang menyebabkan pembengkakan ini terjadi?

Pembengkakan ini timbul lantaran terjadi peningkatan tekanan di sekitar otak. Ketika tekanan dari sekitar otak meningkat, area optic disc akan tertekan sehingga bagian ini membengkak. Tekanan ini dapat terjadi lantaran peningkatan cairan serebrospinal atau disingkat CSF.

Cairan serebrospinal ini pada dasarnya mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang dan berfungsi melindungi otak dan sumsum tulang belakang dari kerusakan. Tetapi, peningkatan CSF bisa memenuhi bagian sekitar optic disc, sehingga saraf-saraf optik di bagian ini semakin tertekan dan membengkak.

Tekanan juga bisa timbul lantaran terjadi pembengkakan otak yang disebabkan:

  • Cedera di kepala
  • Tidak memiliki cukup sel darah merah atau hemoglobin
  • Hidrosefalus
  • Perdarahan di dalam otak
  • Peradangan di dalam otak (ensefalitis)
  • Meningitis
  • Tekanan darah tinggi
  • Adanya nanah akibat infeksi di dalam otak (abses)
  • Tumor otak
  • Terkadang tekanan otak yang tinggi terbentuk tanpa alasan yang jelas, yang dikenal sebagai hipertensi intrakranial idiopatik. Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas.

Apa gejala dari papilledema?

Gejala awal papilledema meliputi:

  • Pandangan mulai kabur
  • Penglihatan ganda
  • Penglihatan seperti melihat ada kilat
  • Penglihatan tiba-tiba hilang dalam beberapa detik

Jika tekanan otak terus berlanjut, maka perubahan-perubahan di atas akan semakin terasa dan terjadi lebih lama. Dalam sejumlah kasus, gejala bahkan jadi semakin parah dan tidak hilang-hilang.

Gejala lainnya yang juga bisa terjadi adalah:

  • Mual dan muntah
  • Sakit kepala
  • Seolah mendengar suara lain di telinga

Bagaimana diagnosis dilakukan?

Salah satu cara mendiagnosis papilledema adalah dengan menggunakan suatu alat khusus. Dokter akan menggunakan sebuah alat yang bernama oftalmoskop untuk melihat kondisi di balik bola mata. Tes lainnya yang biasanya akan diminta adalah MRI yang bisa memberikan gambaran lebih detail, dan lebih mungkin menunjukan apa penyebab tekanan yang tinggi terjadi di sekitar otak. MRI juga yang selanjutnya digunakan untuk melihat progres pengobatan papilledema dari waktu ke watu.

Selain itu dokter juga dapat merekomendasikan pungsi lumbar pertama kali. Pungsi lumbar merupakan prosedur penarikan cairan CSF untuk mengukur banyaknya CSF di sekitar otak dan sumsum tulang belakang.

Lalu bagaimana penanganan untuk papilledema?

Penanganan yang dilakukan akan berbeda-beda, tergantung penyebabnya.

Pada dasarnya, untuk mengurangi tekanan akibat penumpukan cairan, dokter biasanya melakukan pungsi lumbar. Pungsi lumbar adalah prosedur medis dengan memasukan jarum ke daerah tulang belakang untuk menarik atau menyedot cairan serebrospinal yang menumpuk, sehingga tekanan berkurang dan pembengkakan berkurang. Dokter juga biasanya memberikan resep berisi acetazolamide (Diamox) untuk menjaga tekanan sistem saraf Anda pada tingkat normal.

Obat lainnya yang akan diresepkan dalam kasus ini untuk meredakan pembengkakannya adalah pemberian kortikosteroid, seperti prednison (Deltasone), deksametason (Ozurdex), dan hidrokortison (Cortef). Obat-obatan ini bisa didapatkan dalam bentuk suntikan atau diminum.

Jika tekanan darah tinggi adalah yang menyebabkan terjadinya papilledema, maka dokter akan memberikan pengobatan untuk menjaga tekanan darah Anda. Pengobatan yang biasanya diberikan seperti:

  • Diuretik: bumetanide (Bumex) dan chlorothiazide (Diuril)
  • Beta blockers: atenolol (Tenormin dan esmilol (Brevibloc)
  • Penghambat ACE: captropil dan moexipril

Jika kondisi papilledema terjadi lantaran tumor otak, dokter akan merekomendasikan untuk melakukan operasi pengambilan bagian tumor yang berbahaya. Kemoterapi atau terapi radiasi juga diberikan untuk membuat ukuran tumor dapat lebih mengecil dan mengurangi pembengkakan yang terjadi.

Jika papiledema terjadi lantaran infeksi, dokter akan meresepkan antibiotik. Pengobatan infeksi berbeda-beda tergantung apa jenis bakteri yang menimbulkan infeksi tersebut. Jika terdapat abses, maka dokter akan melakukan kombinasi penanganan yakni dengan antibiotik dan pembuatan drainase untuk mengalirkan cairan dari otak.

Jika papilledema itu terjadi akibat cedera kepala parah, dokter akan mencoba mengurangi tekanan dan pembengkakan dengan melakukan pengeringan CSF dari kepala dan melepaskan sepotong kecil bagian tengkorak untuk menghilangkan tekanan.

Apakah papilledema dapat menimbulkan komplikasi?

Dilansir dari laman Healthline, ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada papilledema. Di antaranya adalah:

  • Bisa menimbulkan kebutaan jika peningkatan tekanan terjadi dalam waktu yang lama tanpa pengobatan
  • Kerusakan otak
  • Stroke
  • Sakit kepala terus-menerus
  • Kematian

Oleh sebab itu, bila Anda merasakan gejala-gejala seperti yang sudah dipaparkan di atas, segera periksa ke dokter. Jangan anggap sepele kondisi ini karena komplikasinya bersifat serius.