Aswari Rivai, Cara Menjaga Ekosistem Sungai Dengan Kearifan Lokal

0
146

Beberapa warga di tepian Sungai Kikim, Desa Muara Tandi, Kecamatan Gumay Talang, terlihat tanpa ragu mandi, mencuci serta melakukan kegiatan lainnya, pada pagi akhir pekan lalu.

Saat menjelang siang, aktivitas warga di sungai itu seolah tidak berhenti, beberapa perahu kecil tampak hilir mudik menerjang maupun mengikuti arus dan di sudut-sudut bantaran, terlihat pula warga yang memancing ikan.

Memang sebagian besar masyarakat Bumi Seganti Setungguan mengandalkan sungai sebagai sumber kehidupan setiap hari. Maklum daerah yang berada di kaki perbukitan Serelo tersebut di lintasi lima sungai sebagai lambang sumber kehidupan yakni Sungai Musi, Lematang, Kikim, Manna dan Sungai Lintang maupun sejumlah anak sungai lainnya. ‘’Sejak dulu sungai memang menjadi sumber penghidupan kami,’’ ujar Sakim, 57, warga Desa Muara Tandi.

Menyadari kearifan lokal masyarakat tersebut, Bupati Lahat, Aswari Riva’i memfokuskan pula kebijakan pemerintahan yang dipimpinnya untuk memperhatikan ekosistem sungai selain fokus pada pembangunan infrastruktur. ‘’Sungai memang menjadi salah satu fokus kami dalam membangun Lahat, oleh karena itu kehidupan sungai harus dipelihara dengan baik,’’ ujar Bupati, beberapa waktu lalu.

Caranya, antara lain sudah puluhan kali sang bupati menebar benih ikan di beberapa sungai yang membelah Kabupaten Lahat. Seperti menebar benih ikan baung dan ikan semah di Sungai Selangis Kecamatan Gumay Ulu, Sungai Larangan di Desa Cecar, Kecamatan Kikim Timur, Sungai Muara Cawang, di Desa Muara Cawang Kecamatan Speksu, Sungai Kikim, serta Sungai Lematang.

‘’Sudah kesekian kalinya kami menebar bibit-bibit ikan di aliran sungai yang ada di Lahat, karena ini adalah prioritas utama kami juga agar kelangsungan ekosistem ikan di sungai tetap terjaga. Diharapkan, benih-benih ikan itu dapat bermanfaat bagi masyarakat di bantaran sungai,” tutur Aswari.

Cara Menjaga Ekosistem Sungai Dengan Kearifan Lokal

Selain menebar benih ikan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lahat juga mendorong masyarakat untuk menjaga kelestarian ikan-ikan itu. Namun sayang, kerap pula masih didapati warga yang menangkap ikan dengan menyetrum dan menggunakan racun putas.

Untuk mensiasati perilaku warga yang nakal itu, Aswari berbaur dengan masyarakat menggelar tradisi bekarang di Sungai Muara Cawang, Desa Muara Cawang, Kecamatan Speksu, beberapa waktu silam. Bekarang merupakan sebuah tradisi rakyat Lahat menangkap ikan bersama warga di sungai desa setempat kemudian ikan yang didapat dibagi rata setiap peserta dengan dikarang menggunakan tali atau akar yang ditusukkan ke insang ikan sampai tembus ke mulut ikan.

‘’Kegiatan bekarang itu seperti menjadi pesta rakyat di desa, sebab semua warga desa itu berkumpul untuk menangkap ikan di sungai bersama-sama,’’ papar Aswari.

Upaya yang dilakukan orang nomor satu di Lahat itu, tampaknya menjadi catatan tersendiri bagi masyarakat sebagai bentuk perhatian pemimpin kepada rakyatnya. Terbukti kegiatan semacam itu membuat masyarakat antusias soalnya tanpa canggung bupati didampingi sang istri Hj. Raden Rukmi Kurnia Sismartianty Aswari atau kerap disapa bunda Lisa berbaur dengan warga makan bersama.

‘’Saya lakukan hal itu agar ada kebersamaan dan semakin dekat dengan masyarakat, sehingga apa yang menjadi program Pemkab Lahat dipahami pula oleh mereka,’’ tutur kak Wari — sapaan yang kerap dilontarkan warga — kepada Bupati.

Cara Menjaga Ekosistem Sungai Dengan Kearifan Lokal

Dalam acara silaturahmi kepada masyarakat, kak Wari tidak luput memberikan ajakan untuk melestarikan ekosistem sungai dengan tidak menangkap ikan menggunakan strum atau racun putas. Karena akan berdampak pada habitat lain yang hidup di sungai tersebut sehingga merugikan masyarakat sendiri. Bahkan, Wari menjanjikan hadiah bagi warga yang berhasil menangkap oknum warga lainnya yang berbuat nakal menangkap ikan dengan cara tidak benar.

“Akan saya berikan hadiah satu juta rupiah bagi siapa saja warga maupun yang lain berhasil menangkap orang yang sengaja menangkap ikan dengan cara memutas atau menyetrum, tangkap dan laporan kepada saya,” ungkap Aswari, disambut masyarakat dengan serius.

Rupanya, upaya Bupati Aswari tidak cuma sampai di situ. Untuk menjaga kelestarian sungai Aswari juga menggunakan kearipan lokal lainnya yakni menetapkan beberapa bagian sungai sebagai lubuk larangan. Lubuk Larangan adalah tempat dimana masyarakat menebar benih ikan yang hanya diambil saat tertentu berdasarkan ketentuan adat dengan menjaga kelestarian alam, ikan dan habitat air. Bila dilanggar maka akan dikenakan sangsi karena lubuk itu dijaga oleh masyarakat Adat.

Salah satunya, sebagai kepala daerah Aswari meresmikan dan mencanangkan nama Sungai Pancar Mas sebagai lubuk larangan di Desa Cecar Kecamatan Kikim Timur. Aswari mengimbau masyarakat Kecamatan Kikim Timur untuk menjaga lubuk larangan yang panjangnya sekitar 10 kilometer.

‘’Dengan ditetapkannya sungai itu sebagai lubuk larangan maka tidak boleh ada warga yang menangkap ikan secara sembarangan karena akan ada sanksinya,’’ papar Aswari.
Ikan yang ada di lubuk larangan itu, tambah Aswari, tetap boleh diambil apabila diperkirakan benih ikan yang sudah ditebar sudah besar dan caranya diambil bersama-sama dengan bekarang. Itu pun, ungkapnya, diambil untuk kebutuhan pesta desa. ‘’Kearipan lokal tersebut sungguh membanggakan budaya luhur masyarakat setempat yang sudah ada sejak dulu,’’ kata Aswari.