2 Mahasiswi Wakili UNS Dalam Ajang Mawapres Tingkat Nasional

0
48

Alat dan aplikasi untuk mendeteksi kualitas air berbasis internet opting yang dibuat Ratih Rachmatika, dan fungisida nabati dari ekstrak akar putri malu yang dibuat Arifah Eviyanti, mengantar keduanya mewakili Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dalam ajang Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Tingkat Nasional di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti).

Sebelum maju di tingkat nasional bersaing dengan mahasiswa berprestasi lainnya dari berbagai kampus, keduanya harus menjalani seleksi di level program studi, fakultas, dan universitas. Ratih Rachmatika yang merupakan mahasiswa Jurusan Teknik Elektronika melalui seleksi tiga tahapan mulai dari karya tulis, Bahasa Inggris, dan prestasi. Ia lalu terpilih mewakili universitas untuk mahasiswa S1.

Demikian pula alur yang dijalani Arifah Eviyanti, mahasiswa D3 Agribisnis Hortikultura. Ia kemudian terpilih mewakili mahasiswa jalur program D3. “Saya mengajukan karya tulis dengan judul Energi Monitoring Siaga Bersih (Emsiab),” kata Ratih Rachmatika di Kampus UNS Solo, Jawa Tengah, Senin (16/4/2018) siang.

Emsiab merupakan alat dan aplikasi untuk mengukur kualitas air berbasis internet opting. Sehingga, kondisi air bisa dimonitor 24 jam dengan alat yang dibuatnya sekaligus terkoneksi dengan handphone (HP). Kondisi air yang bisa dimonitor antara lain PH, tingkat kekeruhan, dan suhu. Dengan alat itu pula, kondisi air dapat recycle atau didaur ulang menjadi normal kembali dan cukup dikendalikan melalui HP.

Alat dan aplikasi sistem rancangannya, mulai dikerjakan sekitar satu tahun lalu dengan menghabiskan dana sekitar Rp10 juta. Dana Rp5 juta dari kampus, sementara Rp5 juta sisanya harus merogoh kocek sendiri. Selain itu juga harus melalui trial dan error. Alat dan aplikasi sudah diuji coba dengan sampel air Sungai Bengawan Solo. Dirinya berharap saat Mawapres mampu masuk 15 besar.

2 Mahasiswi Wakili UNS Dalam Ajang Mawapres Tingkat Nasional

Sementara itu, Arifah Eviyanti mengaku membuat produk fungisida nabati gel dari ekstrak akar putri malu sebagai pengendali antraknosa pada tanaman cabai, khususnya di daerah lahan pasir pantai Indonesia. Tanaman cabai dipilih lantaran diperkirakan tahun 2019 mendatang kebutuhan cabai meningkat sekitar 2 persen. Sehingga, produksi cabai perlu didukung agar hasil melimpah.

“Di antaranya agar tidak terserang antraknosa yang membuat cabai terdapat bercak dan menurunkan produktivitas panen,” ungkap Arifah Eviyanti.

Di Kulon Progo, DIY, rata rata petani menggunakan fungisida kimia. Jika terus menerus dipakai maka akan terjadi resistensi. Pemakaian bahan kimia dinilai berbahaya dan tidak mendukung pertanian yang berkelanjutan. Sehingga, untuk mendukung pertanian berkelanjutan, harus beralih dari kimia ke nabati.

Tanaman putri malu yang selama ini masih dianggap gulma, sangat tersedia melimpah di alam dan budidayanya mudah. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak akar putri malu konsentrasi 90%, mampu menghambat penyakit 28%, dan kejadian penyakit nol %. “Bahan aktifnya mampu merusak dinding sel penyebab antraksona,” ujar Arifah.

Sedangkan untuk membuat fungisida itu, dirinya mulai sekitar Februari lalu. Rencananya, fungisida itu akan diuji coba di Kulon Progo karena memiliki lahan pasir, dan budidaya cabai banyak kena antraknosa. Selain tanaman putri malu, bawang juga bisa dipakai untuk melawan antraknosa. Hanya saja akan bertentangan mengingat bawang juga dikonsumsi. Fungisida buatannya memiliki daya absorpsi yang tinggi, dan ramah lingkungan.