PARADOX INDONESIA: Kadang Pemimpin Bisa Dibeli Karena Uang Berkuasa di Pemilihan

0
213
PARADOX INDONESIA: Kadang Pemimpin Bisa Dibeli Karena Uang Berkuasa di Pemilihan

Sesungguhnya, taruhan kita sangat besar. Sekarang kita merasakan bahwa masyarakat kita, bangsa kita sedang mengalami suatu penyakit yang mendalam. Setiap unsur masyarakat kita sudah rusak. Rusak moral, rusak mental.

Ya, setiap unsur di masyarakat kita, setiap tingkatan kepemimpinan sudah sarat dengan sogok-menyogok. Orang yang punya banyak uang atau dimodali banyak uang bisa membeli suara, membeli loyalitas, membeli ketaatan.

Sekarang banyak pemimpin kita, banyak pejabat kita bukan taat kepada Undang-Undang Dasar, bukan taat kepada kepentingan bangsa, tetapi taat kepada yang memberi uang.

Ini semua karena demokrasi yang kita laksanakan, demokrasi liberal yang kita laksanakan sekarang ini, membutuhkan biaya yang sangat besar.

UANG YANG MAHA KUASA

Setelah 70 tahun lebih kita bernegara, setelah pendahulu-pendahulu kita dengan gagah berani menolak dijajali kembali oleh kekuatan asing, sekarang bangsa Indonesia tetap dalam ancarnan akan dijajab kembali.

Tetapi, sekarang mereka menjajahnya lebih lihai, lebih bagus, lebih halus, lebih licik. Mereka tidak kirim tentara, mereka cukup ‘membeli’ dan menyogok pemimpin-pemimpin kita.

Kita sadar dan mengerti, demokrasi adalah sistem yang terbaik dan sistem-sistem pemerintahan yang ada. Namun, demokrasi kita sekarang terancam. Demokrasi kita mau disandera. Demokrasi kita sekarang mau diperkosa. Demokrasi kita sekarang mau dirusak dengan politik uang. Saat ini, uang yang maha kuasa.

Ya, dengan uang, bangsa kita hendak dijajah kembali. Peniimpin-pemirnpin kita dibeli. Hakim-hakim, politisi-politisi, anggota-anggota DPR, ketua-ketua partai kita banyak yang lemah dan bisa dibeli. Hampir semua lembaga dirusak uang. Termasuk pemimpin-pemimpin agama kita, ada yang sudah mulai dirusak uang.

Demokrasi sekarang adalah demokrasi yang punya uang. Ini membahayakan demokrasi Indonesia. Ini berarti, mereka yang punya atau kuasai uang, mereka yang menguasai kedaulatan politik Indonesia.

Sekarang ini, setiap menjelang pilkada, saat peminipin partai-partai di Indonesia menjaring calon pemimpin, inilah yang ditanyakan kepada para calon yang mendaftar di partai-partai. Termasuk di partai saya, Partai GERINDRA. Yang ditanyakan bukan “kamu sekolahnya di mana?”, bukan “ijazahmu apa?”, bukan “pengabdianmu kepada negara bagaimana?”.

Tetapi, yang ditanyakan adalah “kamu punya uang, tidak?”

Ada tokoh yang hebat, jujur, bersih, bijak, dan sudah mengabdi sekian puluh tahun, sebagai guru atau pegawai negeri, atau sebagai tentara atau polisi. Namun dia tidak bisa mengabdi lebih lanjut, karena pertanyaannya selalu, “kamu punya uang atau tidak?”

Akhirnya, bahayanya bagi bangsa Indonesia adalah nantinya semua akan ditentukan oleh mereka yang punya uang. Ya, kalau dia punya uang warga negara kita yang setia kepada Pancasila. Tetapi kalau uang itu berasal dan uang haram, kalau uang itu berasal dan luar negeri, berarti kita dijajah dengan uang.

PARADOX INDONESIA: Kadang Pemimpin Bisa Dibeli Karena Uang Berkuasa di Pemilihan

Karena itu, saya sering mengatakan, kita adalah bangsa yang ramah. Kita ingin bersahabat. Saya selalu katakan kepada teman-teman saya dan negara lain, “I want to be your friend. I want to be your partner, but I can not be your peon.”

Saya ingin jadi sahabatmu. Saya ingin jadi mitramu. Tetapi kalau kamu ingin saya jadi kacungmu, saya katakan, tidak!

Prabowo tidak bisa jadi kacung kamu. Indonesia tidak mau jadi kacung kamu. Kita mau jadi sahabatmu. Kita mau jadi kawanmu. Kita mau jadi mitramu, tapi kita tidak mau jadi kacung siapa pun di dunia.

Saya tidak mau, ketika ada orang kaya melihat Indonesia di peta dunia, mereka melihat ada price tag, ada label harga yang menempel di peta negara kita karena sistem demokrasi liberal yang kita anut.

Sumber : Pandangan Strategis Prabowo Subianto
PARADOKS INDONESIA 60-65