Tarian Bon Odori, Menari Dan Berpesta Bersama Arwah Leluhur Di Tokyo

0
76
Tarian Bon Odori, Menari Dan Berpesta Bersama Arwah Leluhur Di Tokyo
Jepang yang dikenal sebagai negara yang berkembang pesat di bidang teknologi dan otomotif ini juga dikenal sebagai negara yang inovatif serta memiliki ragam budaya yang tidak kalah unik dengan negara kita Indonesia. Oleh sebab itu, maka Tarian Bon Odori ini juga termasuk budaya unik di negri bunga sakura ini. Apa sih Tarian Bon Odori itu dan apa menariknya?
Kendati sudah menjelang malam, udara wilayah Kanto termasuk Tokyo yang memasuki pertengahan musim panas terasa gerah. Musim panas adalah saat yang pas untuk berkeliaran dengan pakaian tradisional Yukata yang terbuat dari katun sejuk, berkumpul bersama banyak orang untuk tidak hanya merayakan musim panas, tetapi juga menghormati leluhur melalui tarian massal Bon Odori.
Menjelang perayaan obon, makam dan altar dibersihkan dan dirapikan. Ini adalah sebuah arca jizo, yang melindungi arwah anak-anak.
Sejumlah lentera menghiasi gapura, menyambut tamu-tamu yang datang.  Begitu melangkah masuk ke area lapangan, terlihat lentera-lentera kertas yang tergantung di tali-temali yang direntangkan di atas kepala. Tali-temali yang berseliweran itu memusat di sebuah panggung besar dengan beberapa tingkat. Panggung tersebut, dinamakan yagura, menjadi titik pusat bagi bon odori.
Tarian Bon Odori, Menari Dan Berpesta Bersama Arwah Leluhur Di Tokyo
Tarian Bon Odori, Menari Dan Berpesta Bersama Arwah Leluhur Di Tokyo
Beberapa kelompok alat musik tabuh sedang memamerkan kebolehan mereka membawakan lagu-lagu tradisional di sekitar yagura. Mereka bergantian tampil dengan sejumlah kelompok tari dan bahkan band yang membawakan musik pop. Namun tarian puncak belum dimulai.
Bon odori adalah tarian yang diiringi hentakan genderang dan mungkin juga bunyi berbagai alat musik tradisional lainnya: riuh dan meriah. Tidak seperti bayangan kita, mungkin, mengenai seperti apa seharusnya kita menari untuk menghormati leluhur.
Tetapi inilah tarian penghormatan terhadap leluhur versi Jepang dari festival yang luas dikenal sebagai ‘Festival Arwah Kelaparan’ di Cina. Keriaan dan tarian adalah cara menghibur arwah leluhur yang diundang untuk kembali ke alam fana satu kali dalam setahun.
Di banyak daerah, tarian bagi arwah leluhur, Bon Odori, diselenggarakan bersama-sama festival musim panas yang menjadi ajang keluarga dan sahabat bercengkerama.
Obon dirayakan pada tanggal berbeda-beda di berbagai daerah di Jepang selama Juli dan Agustus. Sebagian orang akan mengambil cuti dan pulang ke kampung halamannya saat perayaan obon untuk membersihkan makam leluhur dan melaksanakan rangkaian upacara obon. Ada beberapa tahap, yang dimulai dengan mengundang arwah leluhur untuk pulang ke alam fana dan diakhiri dengan mengirimkan mereka kembali ke alam baka.
Walaupun ramai, festival di HigaKo itu tergolong kecil dibandingkan sejumlah festival obon lain. Obon di Tokushima, contohnya, konon sampai menarik sejuta wisatawan setiap tahunnya.
Tarian Bon Odori, Menari Dan Berpesta Bersama Arwah Leluhur Di Tokyo
Tarian Bon Odori, Menari Dan Berpesta Bersama Arwah Leluhur Di Tokyo
Akan tetapi, sebelum Bon Odori dan peluncuran kembang api dilaksanakan, ada banyak hiburan lain dan tentu saja… stan-stan makanan! Berbagai makanan yang identik dengan festival rakyat di jajakan oleh deretan stan di tepi lapangan. Mulai dari ikayaki (cumi bakar), yakisoba (mi goreng), banana choco (pisang beku yang dicelupkan ke cokelat cair yang lantas mengeras), kyuri (ketimun), semangka, dan masih banyak lagi.
Sebagian besar lapangan dibiarkan terbuka, tidak tertutup stan atau pun panggung. Hadirin bebas menggelar tikar untuk duduk santai bersama-sama keluarga dan teman. Namun rumput lapangan bersih dan halus, membuat tidak segan duduk untuk menyaksikan pertunjukan dari kejauhan.
Kemudian tak berapa lama. Bon odori puncak akan dimulai. Dalam bayangan, tarian tradisional sudah tidak banyak peminatnya dan hanya orang tua yang akan turut menari. Tapi tanpa disangka, tua-muda, lelaki-perempuan, berpakaian tradisional ataupun tidak, bergegas-gegas berkerumun di sekeliling yagura. Begitu musik dimulai, mereka pun serentak menari, sambil berjalan mengitari yagura. Tak semua yang turun menari hapal dengan gerakan-gerakannya, terutama anak-anak.
Namun tak perlu khawatir ataupun malu, akan selalu ada orang yang berperan sebagai ‘pemimpin tari’. Mereka mengenakan pakaian tradisional dan tampak yang paling hapal gerakan tarian demi tarian. Setiap kali lagu berganti, gerakan pun berganti pula. Banyak gerakan tarian yang sepertinya meniru aktivitas para petani, sesuai kondisi HigaKo yang tadinya merupakan kawasan pedesaan sebelum di rengkuh oleh Tokyo Raya.
Adapun Yukata yang dikenakan dalam festival musim panas terbuat dari bahan yang tidak membuat gerah, serta tidak mengganggu gerak peserta festival.
Para penari terus berputar mengelilingi yagura sesuai irama. Pusaran manusia itu terasa mistis: yagura bagaikan pusat dunia bagi manusia hidup maupun arwah yang telah berpulang. Tapi, apakah arwah para leluhur pun sedang ikut menari saat ini, bahagia karena kembali bisa berdekatan dengan sanak-saudara mereka yang masih hidup, bahagia karena mereka tidak terlupakan?
Tarian Bon Odori, Menari Dan Berpesta Bersama Arwah Leluhur Di Tokyo
Tarian Bon Odori, Menari Dan Berpesta Bersama Arwah Leluhur Di Tokyo
Ketika akhirnya tarian terakhir rampung, pembawa acara mengumumkan bahwa sekarang tiba saatnya meluncurkan kembang api ke udara. Di tempat-tempat lain, obon diakhiri dengan melarungkan lentera ke sungai atau laut—untuk daerah-daerah yang berada di dekat air mengalir—atau kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan api. Api berperan sebagai pemandu bagi para leluhur dalam menempuh perjalanan kembali ke dunia mereka.
Dengan bunyi berdesis-desis, kembang api susul-menyusul meluncur ke udara, meledak dan menyumbangkan keindahan detik-detik terakhir kehidupannya kepada kerumunan manusia yang sebentar-sebentar berdecak kagum.
Kembang api terakhir mekar di udara, dan berakhirlah festival tersebut untuk tahun ini. Semua orang bertepuk tangan. Puas, gembira. Berangsur-angsur mereka meninggalkan tempat pelaksanaan acara, sambil tertawa dan mengucapkan, “Otsukaresama deshita terima kasih atas kerja kerasnya.”
Tahun ini pun para leluhur telah dihormati, keluarga, sahabat, dan tetangga telah berbaur dengan riang. Jalinan masa lalu dipererat dengan masa kini, dan juga masa depan. Kemudian lentera padam satu per satu mengakhiri kemeriahan di malam itu.