PRABOWO, SOE HOK GIE DAN GERAKAN SOSIAL KERAKYATAN

0
11
PRABOWO, SOE HOK GIE DAN GERAKAN SOSIAL KERAKYATAN

Soe Hok Gie merupakan sosok yang sangat visioner, gerakan dan pemikirannya cukup banyak menjadi inspirasi kalangan muda yang selalu melakukan perjuangan demi kebaikan Bangsa dan Negara Indonesia, dan pantas diteladani. Seorang sosok cerdas dan berani yang sangat vokal mengkritik kebijakan Presiden Soekarno pada masanya.

Pernah suatu ketika Senat Fakultas Sastra UI menerima surat dari Menteri Koordinator Pendidikan dan Kebudayaan Profesor Prijono. Senat diminta mengirimkan 20 orang mahasiswi untuk nonton wayang kulit di Istana semalam penuh. Bagi Soe Hok Gie, cara meminta itu sangat menyinggung perasaan mahasiswa, karena seolah-olah Fakultas sastra adalah pemasok wanita untuk konsumsi istana. Apalagi tidak seorangpun mahasiswa diundang. Herman Lantang, kawan karib seangkatan Soe Hok Gie sangat tersinggung dengan cara ini. Herman dan Gie layak tersinggung, karena biasanya terkait urusan gerakan mahasiswa mereka selalu diundang Bung Karno.

“Setiap aku keluar dari istana, aku sedih dan kecewa. Sedangkan biasanya orang lain bangga jika bisa berjabatan tangan dengan Bung Karno” kata Gie.

Menarik sekali memang membahas sosok ini, terlepas banyaknya pro dan kontra setidaknya kita tetap harus menghargai semangat yang diusung oleh pemuda-pemuda pada masa itu dalam mengawal kekuasaan agar tetap pada jalurnya.

Cerita kedekatan Prabowo Subianto dengan Soe Hoe Gie sekilas ada di dalam buku “Catatan Seorang Demonstran” yang merupakan kumpulan tulisan aktivis mahasiswa Soe Hok Gie. Dalam catatan Soe Hok Gie, nama Prabowo muncul pada tahun 1969. Soe menyebut nama panggilannya “Bowo.”

Soe Hok Gie dan Prabowo tampak cukup dekat. Mereka beberapa kali kerap keluyuran bareng. “Dari pagi keluyuran dengan Prabowo ke rumah Atika, ngobrol dengan Rachma, dan membuat persiapan-persiapan untuk pendakian Gunung Ciremai,” tulis Gie pada Kamis 29 Mei 1969.

Dalam tulisannya, Soe Hok Gie menggambarkan Prabowo Muda sebagai kanak-kanak yang cerdas dan cepat tanggap, namun juga masih naif. “Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas tapi naïf. Kalau ia berdiam 2-3 tahun dalam dunia nyata, ia akan berubah.” (catatan Soe Hoek Gie 25 Mei 1969).

Cerita soal Lembaga Pembangunan juga sempat disebut dalam catatan Soe Hok Gie. “Jumlah desa-desa di Indonesia beribu-ribu dan jumlah mahasiswa yang bisa dikerahkan paling hanya beberapa ribu” katanya.

Mereka juga mengurus organisasi yang bernama Pioneer Korps. Soe Hok Gie sering menyebutnya sebagai pionir korpsnya Prabowo.

Jusuf Abraham Rawis atau dikenal dengan Jusuf AR mengatakan “Itu mungkin LSM pertama di Indonesia,”. Jusuf yang terkenal di bidang bisnis merupakan salah satu aktifis yang pernah dipenjara karena dianggap terlibat dalam peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974.

Jusuf bercerita LSM yang dijalankan Prabowo bersama sejumah aktivis itu bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat desa. Mereka beberapa kali mengadakan kegiatan di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Mereka langsung bergerak ketika mendengar warga Gunung Kidul, Yogyakarta, terkena wabah busung lapar. Lembaga Pembangunan kemudian mengadakan kegiatan pengobatan gratis. Demikian juga ketika mereka membantu memperbaiki irigasi sungai yang buruk di sebuah desa. “Kami mengumpulkan pendanaan dari banyak donatur,” tuturnya.

PRABOWO, SOE HOK GIE DAN GERAKAN SOSIAL KERAKYATAN
PRABOWO, SOE HOK GIE DAN GERAKAN SOSIAL KERAKYATAN

Dari pergaulan itu, Jusuf AR mengenang Prabowo sebagai anak muda yang kreatif. “Mengagumkan sekali, biar masih muda tetapi ide-idenya banyak, padahal umurnya masih 17 atau 18 tahun,” tuturnya.

PRABOWO Subianto sendiri mengakui kisah yang diceritakan dalam catatan Soe Hok Gie dan kesaksian Jusuf AR tersebut. Bahwa dirinya sudah aktif di dunia sosial kerakyatan dan berorganisasi sejak muda.

“Ini bukan yang pertama saya bersentuhan dengan masyarakat. Saya sudah berurusan dengan desa sejak usia 17 tahun. Bersama beberapa mahasiswa dan pemuda membentuk LSM pembangunan,” kata Prabowo .

Salah satu yang di impikan oleh Prabowo adalah untuk membangun desa sebagai sebuah kekutan ekonomi, terutama target kemandirian pangan. Sehingga Indonesia bisa lepas dari ketergantungan impor pada sektor pangan.

Hingga bertugas di militer ia tidak pernah melupakan masa lalunya itu. Bergulat dengan permasalahan desa dan lahan pertanian. “Saat masuk tentara, saya mewajibkan setiap tentara harus membuka lahan pertanian,” ucapnya. Kegiatan ini kemudian semakin berkembang ketika Presiden Suharto mencanangkan program ABRI masuk desa.

Prabowo dan Soe Hok Gie, tidak saja dekat dalam hal pergerakan sosial kerakyatan namun juga memiliki kesamaan cara berpikir terhadap nasib rakyat.

Salah satu kalimat Soe Hok Gie yang fenomenal adalah “Politik itu kotor namun bila tidak bisa menghindar terjunlah kedalamnya”.

Dan Prabowo mengungkapkan hal yang sama meski dengan kalimat lain, misalkan:

“Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”

“Karena kalau diam, bangsa Indonesia akan selalu ditindas oleh bangsa lain. Karena jika kita tidak mau terlibat di politik, jika kita tidak aktif mengajak teman, saudara, kerabat kita untuk peduli, artinya kita membiarkan negara kita hancur”.

——–

Mungkin jika Soe Hok Gie masih hidup, dia dengan bangga akan bergandengan dengan Prabowo untuk berjuang bersama. Memerdekakan Indonesia sekali lagi!